“Terjadi insiden dimana seluruh desa dan bagian kota dibakar di negara bagian Rakhine,” ujar juru bicara Thein Sein, Zaw Htay kepada BBC.
Ia menyampaikan hal itu setelah Human Rights Watch merilis sebuah citra satelit yang menunjukkan kehancuran seluruh desa tersebut di wilayah pantai Kyaukpyu. Ia mengakui para korban kebanyakan warga Muslim Rohingya dengan pelaku warga non-Muslim.
“Kalau dibutuhkan kami akan mengirim lebih banyak polisi dan tentara untuk mengembalikan stablitas,” tegasnya.
Penyerangan tersebut terjadi pada Rabu (24/10/2012) dilakukan oleh warga Buddha terhadap Muslim Rohingya atau biasa juga dikenal dengan sebutan Rakhine. Laporan sebelumnya mencatat jumlah orang tewas mencapai 112 orang hingga Jumat (26/10/2012).
Namun, selama periode 21 hingga 25 Oktober, media pemerintah menyebutkan jumlah yang tewas mencapai 67 orang, 95 luka-luka dan lebih dari 3.000 bangunan hancur. Human Right Watch menyebutkan warga Rohingnya menyelamatkan diri ke laut menggunakan perahu.
Chris Lewa, direktur Arakan Project, sebuah LSM yang mengadvokasi Muslim Rohingya mengatakan kekerasan tersebut tidak hanya dilakukan terhadap warga Muslim Rohingya, tetapi juga terhadap warga minoritas Muslim lainnya yang dikenal sebagai minoritas Kaman.
“Ini bukan lagi kekerasa anti-Rohingya, tetapi anti-Muslim,” ujar Chris sebagaimana dikutip Guardian.


0 komentar:
Posting Komentar