Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra Ahmad Muzani menampik bila Partai Gerindra sebagai penumpang gelap dalam sukses Jokowi-Ahok di Pilkada DKI Jakarta. "Kami tidak merasa menjadi penumpang gelap," bantah Muzani melalui saluran telepon di Jakarta, Sabtu (13/10/2012).
Muzani juga berbicara soal nasib kontrak antara PDI Perjuangan dan Partai Gerindra yang diteken dalam Pemilu 2009 lalu. Berikut wawancara lengkapnya:
Bagaimana komentar Anda terkait pernyataan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang menyebut ada penumpang gelap dalam Pilkada DKI Jakarta terkait kemenangan Jokowi-Ahok?
Kami tidak merasa menjadi penumpang gelap. Kami tidak merasa dituduhkan Bu Mega dan kami tidak tahu apa yang dimaksud dan siapa yang dimaksud.
Belakangan pernyataan elit PDI Perjuangan kurang happy dengan Gerindra. Apa ini yang menunda deklarasi Prabowo Subianto?
Tidak ada hubungan sama sekali. Itu bukan deklarasi, hanya konvensi nasional, acara yang diselenggarakan dihadiri oleh semua kader dan pengurus Gerindra dan tokoh untuk memberi testimoni atas pencalonan Prabowo. Itu kita anggap semacam deklrasi.
Kalaupun ditunda lebih konsentrasi verifikasi oleh KPU. Itu urut-urutannya. Kenapa kita rencana Oktober? Karena UU pemilu Parpol di Senayan otomatis menjadi peserta pemilu. Saya tegaskan Hubungan PDIP dan Gerindra sangat baik. Kemudian, hubungan kami juga tengah menyiapkan koalisi di Pilkada lain. Seperti di Jabar dan Jateng kita saling mencocokan.
Jadi Partai Gerindra tidak merasa disindir oleh PDI Perjuangan?
Tidak merasa disindir. Menurut kami, PDIP dan Gerindra untuk mensupport Gubernur dan Wakil Gubernur DKI agar dia merealisasikan janji-janjinya dan merealisasikan program-programnya kita support supaya pilihan kita benar.
Bagaimana dengan nasib kerjasama yang diteken Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri pada 2009 yang berisi dukungan PDIP terhadap Prabowo Subianto?
Itu ada waktunya untuk menjelaskan. Yang pasti hubungan yang baik menjadi dasar untuk koalisi.


0 komentar:
Posting Komentar