Belum diketahui sampai kapan penyelidikan dilakukan, dan apakah hasilnya akan diumumkan ke masyarakat. Hanya Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dapat meminta pihak terkait untuk menjelaskannya.
Kebakaran KRI Klewang 625 yang berlunas tiga (trimaran) itu layak memperoleh perhatian serius. Mengingat posisinya yang sangat strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kehadiran kapal permukaan tersebut secara relatif akan merusak keseimbangan kekuatan laut di antara negara-negara anggota Asean dan Australia, serta menempatkan industri alutsista Indonesia, pada posisi yang tidak bisa diabaikan. Bukankah Indonesia tertinggal dibanding negara-negara tetangga tertentu?
Selain itu, kehadiran kapal yang menyandang predikat siluman, mempunyai persenjataan canggih dan lainnya ini menimbulkan kebanggaan di hati rakyat Indonesia. Kebanggaan yang serupa seandainya juga punya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), mampu berswasembada beras, mempunyai moda transportasi yang canggih dan lain-lain.
Aspek kebanggaan tersebut penting sebagai modal dasar bangsa dalam dinamika pergaulan antar negara. Kalau bukan untuk mewujudkan kebanggaan nasional, tak mungkin Amerika Serikat mengirim manusia ke bulan.
Dewasa ini, kebanggaan nasional sudah menurun bahkan mungkin sampai ke titik terendah. Buktinya, sejarah perjuangan nasional dilupakan. Penghargaan terhadap pemimpin nasional sangat melemah, bahkan para bapak pendiri bangsa seringkali terlupakan.
Terhadap Presiden Soekarno misalnya, kesan yang diberikan selalu negatif. Padahal rakyat di negara-negara Afrika sangat berterima kasih karena Soekarno dan Konferensi Asia-Afrika di Bandung memberi kontribusi penting dalam kemerdekaan negara-negara jajahan di Afrika.
Bandingkan dengan Mao Zedong yang sekalipun banyak menyengsarakan rakyat tetapi masih dihormati. Fotonya dipajang menatap lapangan Tian An Men dan jenazahnya tiap hari, kecuali musim dingin, dikunjungi rakyat.
Rakyat dari hari ke hari terus menerus dihujani berita dan opini tentang pertarungan antar elit, penerapan demokrasi yang kebablasan dan sebagainya. Baru bangun tidur sudah disuguhi berita kecelakaan, pembunuhan dan berita kelas kampung disiarkan secara nasional.
Pemerintah asing juga memberlakukan WNI seperti negara kelas dua, seperti yang dibuktikan dalam pengurusan. Bandingkan dengan perlakuan pemerintah Indonesia terhadap orang asing!
Dewasa ini, terlepas dari usia dan jumlah alusista, kekuatan TNI AL nyaris komplet. Ia memiliki kekuatan udara, kapal selam dan kapal permukaan laut. Kekuatan udaranya, meskipun sedikit, bisa memberi kontribusi guna mendukung kegiatan damai maupun perang di laut.
Adapun pengoperasian kapal selam dapat mengikat kapal-kapal permukaan, sebagaimana yang terjadi dalam perang Malvinas. Bagaimana dengan kapal permukaan sejenis KRI Klewang 625?
Kalau tidak terbakar, KRI Klewang 625 sudah pasti akan menjadi kapal tempur trimaran pertama yang wira-wiri di kawasan Asean. Selain tak terdeteksi radar, ia mempunyai berbagai jenis persenjataan seperti peluru kendali C-705 yang berdaya jangkau 120 km, senapan mesin berat berlaras tujuh dengan diameter 30 mm serta unsur pendukung lain. Kapal milik TNI AL yang dibuat dengan anggaran Rp114 miliar ini baru saja diluncurkan 30 Agustus lalu.
Apapun penyebab kebakaran kapal produksi l PT Lundin Industry Invest tersebut, yang pasti telah menunda membuncahnya kebanggaan nasional dan kehadiran kekuatan penggentar dalam penambahan alusista TNI. Fakta ini sepertinya bagai rentetan pelemahan industri strategis nasional yang pernah terjadi beberapa tahun lalu.
PT Dirgantara Indonesia misalnya, memang memiliki kelemahan namun apakah memang harus ‘disingkirkan”? Kenyataan menunjukkan pesawat CN-235 ternyata diakui ketangguhannya baik oleh para penerbang penerbang domestik maupun pejabat militer Korea Selatan.
Ironisnya, banyak kalangan domestik yang mencelanya dengan berbagai alasan, termasuk ketika akan ditukar dengan beras ketan dari Thailand. Padahal jika pola seperti itu terus berlangsung, maka akan dicontoh konsumen negara lain.
Klewang 625 merupakan satu titik di antara demikian banyak titik yang perlu dibangkitkan untuk mewujudkan kebanggaan nasional. Untuk itu titik demi titik hendaknya dibangkitkan supaya bangsa dan negara yang sesungguhnya besar dan kaya raya ini tidak terus menerus dipecundangi. Ingat! Hanya Indonesia, Vietnam dan Aljazair yang merebut kemerdekaan dengan darah dan airmata.
SUMBER


0 komentar:
Posting Komentar