ads

Pabrik Gula Kediri Jual Listrik dari Ampas Tebu

LUVI LUVI.COM -Kediri - Pabrik Gula (PG) Ngadiredjo, Kediri, resmi menjual listrik kepada PT PLN (Persero) mulai tahun depan. Melalui program co-generation (cogen), pabrik itu mampu mengolah ampas tebu menjadi sumber energi listrik.
Administrator Pabrik Gula Ngadiredjo, Budi Adi Prabowo, mengatakan, program diversifikasi usaha pabrik gula ini tengah dalam tahap pembahasan nota kesepahaman (MoU) dengan PLN.
Jika tidak ada kendala teknis, diharapkan mulai tahun depan PG Ngadiredjo akan memasok listrik sebesar 1 megawatt kepada PLN. "Ini masih dalam pembicaraan MoU," kata Budi kepada Tempo, Selasa, 9 Oktober 2012.
Program ini, menurut Budi, adalah mengolah ampas tebu sisa penggilingan menjadi energi listrik. Seluruh proses tersebut dikerjakan dengan memanfaatkan kelebihan tenaga turbin yang dimiliki Pabrik Gula Ngadiredjo.
Saat ini, turbin tersebut mampu menghasilkan 7 megawatt, dengan 6 megawatt dimanfaatkan sendiri untuk mengoperasikan mesin pabrik. Sedangkan sisanya sebesar 1 megawatt dijual kepada PLN.
Menurut Budi, penjualan listrik kepada PLN ini merupakan usulan dari mantan Direktur PLN Dahlan Iskan, yang saat ini menjabat Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara.
Pabrik gula yang memiliki turbin besar diperkenankan menjual listriknya kepada PLN. Sedangkan nilai jualnya ditetapkan oleh Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral yang disepakati PLN. Program yang sudah dirintis sejak tahun 2011 ini diharapkan bisa memproduksi energi listrik untuk keperluan komersial secara berkelanjutan.
Direktur PTPN X (Persero), Subiyono, mengaku telah mendorong seluruh pabrik gula di wilayahnya untuk melakukan diversifikasi usaha. Selain memproduksi listrik, perusahaan pelat merah ini juga tengah merampungkan pabrik bioetanol berkapasitas 30 ribu kiloliter dengan nilai investasi Rp 467,79 miliar di Pabrik Gula Gempolkerep, Mojokerto.
Bioetanol itu diproduksi dengan bahan baku tetes tebu yang akan disuplai oleh seluruh pabrik gula di wilayah PTPN X. "Selain menghemat biaya produksi, kita dorong untuk menghasilkan produk selain gula," katanya.
Subiyono mengklaim program cogen sendiri berhasil menekan biaya produksi berupa pembelian bahan bakar minyak yang cukup besar. Biaya pembelian bahan bakar minyak untuk 11 pabrik gula sebesar Rp 130 miliar pada tahun 2008 berhasil ditekan menjadi Rp 50 miliar pada tahun 2009. Angka itu terus menurun menjadi Rp 30 miliar pada tahun 2010 dan hanya Rp 8 miliar pada tahun 2011. Dan tahun ini ditargetkan biaya pembelian BBM tinggal Rp 4 miliar.

SUMBER

Artikel Terkait:

0 komentar:

Posting Komentar