ads

PEJABAT RUSIA DIPECAT GARA-GARA KESUCIAN KULIT PUTIH

LUVI LUVI.COM - MOSKOW (Berita SuaraMedia) – Juru bicara imigrasi Rusia, Federal Migration Service (FMS), Konstantin Poltoranin, dipecat gara-gara menyampaikan pernyataan "supremasi kulit putih" dalam sebuah wawancara.
Kepada BBC berbahasa Rusia, Poltoranin mengatakan bahwa Rusia lebih mengutamakan imigran dari negara-negara Slavia. Selain itu, ia mengatakan bahwa kesucian "ras kulit putih" tengah terancam.
"Kami hanya ingin memastikan percampuran darah dilakukan dengan cara yang benar di sini (Rusia). Yang kini tengah dipertaruhkan adalah keselamatan ras kulit putih," katanya.
Sang juru bicara langsung dipecat sesaat setelah muncul laporan jumat (5/10) lalu pada peringatan hari lahir Adolf Hitler.
Wawancaranya ditayangkan pada hari Rabu, dan pada malam harinya dia langsung dipecat. Poltoranin tidak mendapatkan pertanyaan yang sulit, namun dia justru memilih mengutarakan pendapatnya mengenai "ras putih" ketika ditanya apakah ada yang ingin ditambahkannya pada akhir wawancara.
Poltoranin berbicara menngenai kondisi buruk di pusat pencari suaka di Rusia. Di sana, para pengungsi dari Pantai Gading dan Ghana mengaku menjadi target perlakuan rasis dari para penduduk setempat dan pusat pemerintahan.
Poltoranin agaknya menyiratkan bahwa Rusia tidak terbuka untuk warga Afrika dan para pencari suaka lainnya untuk menghindari gelombang imigran seperti yang terjadi di Eropa Barat. Ia mengaku tidak memahami kebijakan negara-negara Eropa Barat.
"Pernyataan semacam itu yang terlontar dari mulut seorang pejabat Rusia tidak bisa diterima, apalagi bagi seorang perwakilan FMS," kata kepala FMS Konstantin Romodanovsky kepada kantor berita RIA Novosti.
Seorang pejabat Kremlin menyambut pemecatan itu. Ia mengatakan, tindakan itu merupakan "tindakah yang logis dan perlu dilakukan."
Ketegangan rasial muncul di Rusia dalam beberapa bulan terakhir setelah seorang suporter sepak bola berkulit putih, Yegor Sviridov, tewas dalam perkelahian melawan orang-orang ras Kaukasia.
Kejadian itu memicu kerusuhan yang dilakukan 5.000 orang di Manezhnaya Ploshchad, di luar Kremlin, dan memperlihatkan dengan jelas kurangnya kebijakan dari pemerintah untuk mengatasi ketegangan yang terjadi.
Pemerintah Rusia berusaha membujuk semua pihak. Di tengah kecaman akan terjadinya kekerasan, Rusia merangkul "kelompok kanan garis keras". Desember tahun lalu, Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin mengusulkan hening cipta selama satu menit untuk Sviridov dan mengatakan bahwa para imigran ke wilayah Kaukasus harus menyesuaikan diri. Putin juga menekankan kembali pandangannya terhadap Rusia sebagai sebuah "negara pelangi".
Di Moskow, terdapat beberapa juga orang imigran dari Kaukasus Utara yang berada di dalam Rusia, serta dari negara-negara pecahan Uni Soviet. Nyaris seperlima dari 143 juta penduduk Rusia dan negara itu membanggakan diri karena menjadi rumah bagi lebih dari 100 kebangsaan.
Tapi, di Moskow dan kota-kota besar lain, ketegangan rasial acap kali memicu kekerasan

Artikel Terkait:

0 komentar:

Posting Komentar