ads

TURKI SERANG SURIAH SEBAGAI BALASAN

LUVI LUVI.COM  - Turki membalas serangan Suriah dengan serangan artileri dan pihak berwenang Turki mengizinkan untuk melakukan tindakan militer lebih jauh, meskipun Ankara bersikeras bahwa tindakan tersebut bukan merupakan sebuah mandat perang setelah penembakan mematikan antar-perbatasan tersebut.


Turki mengatakan bahwa Suriah telah meminta maaf untuk penembakan yang menewaskan lima warga Turki pada Rabu di perbatasan kota Akcakale, dan berjanji bahwa insiden seperti itu, yang meningkatkan ketegangan, tidak akan terjadi lagi.

Parlemen Turki melakukan pertemuan tertutup untuk menyetujui tindakan militer, namun Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan kemudian mengatakan bahwa tidak ada maksud untuk berperang dengan Suriah, meskipun perbatasan negara dan warga sipilnya akan dipertahankan.

"Seharusnya tidak ada negara yang berani menguji tekad kami terhadap hal tersebut," ujar Erdogan, sementara para pengamat mengatakan beberapa tentara Suriah tewas dalam serangan balasan pada Kamis.

Dewan Keamanan PBB mengecam Suriah "dalam kalimat yang tajam" untuk penembakan mematikan terhadap warga Turki, dan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mendesak "batasan maksimum."

Negara-Negara Barat mengeluarkan imbauan yang sama seperti yang dilakukan para sekutu Suriah, China dan Iran.

Amerika Serikat mengatakan Turki telah mengambil tindakan yang "tepat dan proporsional” dalam penyerangan balik ke Suriah, tetapi mendesak tenang.

Serangan Turki "dibentuk untuk memperkuat efek jera, sehingga hal-hal semacam ini tidak terjadi lagi, dan tindakan tersebut merupakan tindakan proporsional," ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Victoria Nuland.

Di Ankara, sesi darurat pagi parlemen menyetujui permintaan pemerintah untuk mengesahkan operasi militer di dalam Suriah, dengan mandat yang berlangsung setahun menerima 320 suara dalam 550 kursi dewan.

"Kebutuhan muncul untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk segera melakukan tindakan dan dalam menghadapi berbagai risiko tambahan serta menghadapi berbagai ancaman yang diarahkan terhadap negara kami," ujar gerakan kabinet.

Para pasukan Suriah sejak 20 September melakukan "tindakan agresif" terhadap Turki meskipun terdapat sejumlah peringatan dan inisiatif diplomatik, tambahnya.

Para pasukan keamanan mengatakan kepada AFP bahwa Turki melakukan penembakan sporadis sepanjang malam dalam waktu setempat pada Kamis.

Namun penembakan tersebut akan dilanjutkan jika dibutuhkan, menurut pejabat Turki.

Tindakan yang diambil tersebut sama dengan serangan bom yang dilakukan secara reguler oleh tentara Turki terhadap markas pemberontak Kurdi di Irak.

Sekutu dekat Damaskus, Rusia, mengatakan bahwa Suriah mengakui penembakan mematikan tersebut merupakan "sebuah kecelakaan tragis."

Namun ribuan orang yang sebagian besar merupakan pengunjuk rasa perdamaian sayap kiri berkumpul di Taksim Square Istanbul, meneriakkan berbagai slogan terhadap pemerintah terkait mandat tersebut, yang dijuluki mereka sebagai sebuah alat untuk "sebuah perang imperialis" terhadap Suriah.

"Rezim Suriah memainkan sebuah permainan berbahaya," ujar Riad Kahwaji, yang mengepalai Institute for Near East and Gulf Military Analysis yang berbasis di Dubai, menyarankan bahwa gejolak tersebut akan berujung pada peristiwa yang menguntungkan para pemberontak, yang berjuang menggulingkan rezim Presiden Bashar al-Assad.

"Turki dapat mengubah keseimbangan kekuatan dalam menguntungkan pemberontak, meskipun (jika) pihaknya tidak mengerahkan tentara menuju Suriah," tambahnya.

SUMBER

Artikel Terkait:

0 komentar:

Posting Komentar