"Pak Gubernur menginginkan setiap aset lahan dan gedung di DKI menghasilkan duit. Setiap investasi pembangunan kita upayakan tidak diambil dari APBD," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purbana, di Balaikota DKI, Jakarta, Jumat (19/10/2013).
Pria yang akrab disapa Ahok itu melanjutkan, untuk itu investasi pembangunan harus melalui kerja sama dengan berbagai instansi negara maupun investor swasta. "Seperti pembangunan serat fiber optic di ibukota akan kita upayakan tidak menanggung biaya bulanan atau tahunan dari PT Telekomunikasi (Telkom)," katanya.
Menurutnya dengan cara menjadikan Kota Jakarta menjadi model dalam pembangunan fiber optic sehingga menjadi ajang promosi PT Telkom dalam mencapai target pembangunan fiber optic diseluruh provinsi di Indonesia.
"Prinsipnya hemat sehemat mungkin, kita usahakan penghematan uang APBD dan BUMD DKI. Jadi sebelum meningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), kita harus bisa menghasilkan uang terlebih dahulu," katanya.
Karena itu dia tidak setuju dengan pembangunan gedung dengan konsep green building. Dinilainya nilai investasi pembangunan gedung green building lebih mahal daripada anggaran listrik yang harus dibayarkan setiap bulannya.
Efisiensi penggunaan aset Pemprov DKI juga harus dilakukan, yaitu dengan menggabungkan kantor dinas menjadi satu gedung. Rencana ini dinilainya untuk melakkan efesiensi pemakaian ruang dan waktu kerja, karena lebih mudah kepala dinas diminta berkumpul rapat dibandingkan saat ini yang lokasi kantor dinas bersebaran di wilayah DKI Jakarta.
Hanya saja kendala dari pemindahan ini adalah kapasitas gedung Balaikota untuk menampung puluhan ribu PNS dari 18 Dinas di jajaran Pemprov DKI Jakarta. Dia pun sudah meminta Biro Organisasi Tata Laksana untuk melakukan pengukuran kembali terhadap ruangan-ruangan yang telah ada tanpa harus membongkarnya. Kalau harus membongkar, maka Pemprov DKI akan mengeluarkan biaya untuk tenaga pembongkaran ruangan


0 komentar:
Posting Komentar