ads

ANNAS (KETUM DEMOKRAT) DIKEPUNG PARA JENDRAL

LUVI LUVI.COM - Salam Republik Wayangku. Pada kesempatan ini saya akan mengulas tentang skenario penyerangan para jenderal militer terhadap ketua umum parta Demokrat, Anas Urbaningrum. Sebuah agresi licik yang dilancarkan oleh para panglima terhadap orang sipil, yang menjadi musuh besar dari kerajaan Cikeas dan sang Jenderal Besar kita tercinta. Sebelumnya mari kita ulas terlebih dahulu mengapa seorang Anas Urbaningrum harus “dimatikan” oleh para ksatria ini. Hulu dari agresi ini adalah Cikeas. Kini, sudah bukan rahasia lagi jika Cikeas sangat tidak suka dengan kiprah Anas di perpolitikan negeri ini. Di berbagai media dan jejaring sosial, hal ini sudah sering diberitakan dan dibahas. Pihak Cikeas sangat tidak suka dengan Anas dikarenakan kiprah mantan Ketum PB HMI itu dirasa sangat begitu cepat, sementara Cikeas menganggap itu sebagai bahaya laten yang akan mengganggu upaya pembentukan politik dinasti mereka di negeri ini pada umumnya dan di pemilu 2014 pada khususnya. Cikeas tengah berusaha untuk mempertahankan dinasti mereka karena SBY sudah tidak boleh mencalonkan diri sebagai presiden pada 2014 nanti. Sembari mempersiapkan Ibas sebagai putra mahkota, maka untuk 2014 harus ada yang memegang tampuk kepemimpinan sementara. Bisa melalui pencalonan dari lingkup kalangan keluarga Ciikeas sendiri, ataupun melalui “boneka” yang mereka percayai.
Mengapa bukan Anas? Anas sebenarnya merupakan pengganti yang sangat ideal bagi SBY dan calon pemimpin partai Demokrat yang ideal. Namun, pihak Cikeas sudah mempunyai calon lain sebagai pengganti SBY sebelum Ibas naik, dia lah Andi Mallarangeng, teman seperjuangan Anas selama berkiprah di HMI. Andi Mallarangeng dipilih karena dia lebih dekat dengan pihak Cikeas dan lebih mudah untuk diatur ketimbang Anas. Namun, kenyataan ternyata tak berpihak pada kubu Cikeas, Andi Mallarangeng kalah pada konggres Demokrat tahun 2010, sementara boneka lain yang dipersiapkan sebagai cadangan yakni Marzukie Ali juga kalah. Mau tak mau Cikeas harus menerima kenyataan bahwa Anas menang. Di tengah kebingungan akibat kemenangan Anas, diam-diam Cikeas menyusun rencana lain. Anas boleh menang, tapi dinasti Cikeas harus tetap dibangun kembali. Apa yang dilakukan Cikeas kemudian? Menghancurkan Anas secara perlahan, sistematis, dan massif. Di tingkatan atas kewenangan Anas mulai dikebiri, segala keputusan selalu dipegang oleh SBY dan Majelis Tinggi partai Demokrat, padahal mereka berada di kedudukan tersebut karena Anas menghormati mereka. Peran Anas sebagai Ketua Umum malah seperti simbol belaka, sehingga praktis ia tak punya banyak ruang gerak. Di tingkatan bawah, pendukung Anas mulai dipreteli dan di tingkatan DPD-DPC, dukungan terhadap Anas juga digoyahkan dengan iming-iming uang.
Kiprah seorang Anas dianggap semakin berbahaya oleh Cikeas. Anas dikenal oleh masyarakat sebagai cerminan pemimpin muda yang kharismatik, santun, cerdas, bersahaja dan tak banyak ulah. Itu diperjelas dengan hasil survey beberapa lembaga survey yang memaparkan bahwa Anas adalah calon kuat presiden pada pemilu 2014. Citra Anas ini semakin memojokkan pihak Cikeas, karena di sisi lain popularitas SBY sudah jauh menurun dan pemerintahannya dianggap sudah tak memberi kepuasan bagi rakyat. Oleh karena itu disusunlah rencana untuk menghancurkan Anas. Semua cara dilakukan, mulai dari counter media, penghancuran karakter Anas, “celoteh” Nazzarudin, rekayasa kasus, sampai pengerahan para jenderal aktif maupun purnawirawan sekutu SBY untuk melakukan silent war. SBY sebagai seorang jenderal besar pasti disegani oleh para perwiranya, perwira-perwira yang dianggap loyal mulai dimasukkan dalam lingkaran kabinet untuk mendukung kelanggengan kekuasaannya. Di dalam internal, SBY mengumpulkan para jenderalnya dalam bingkai Forum Komunikasi Pendiri Demokrat. Tujuannya jelas, untuk menyingkirkan kader-kader yang mbalelo seperti Anas. Dari sisi legitimasi hukum, FKPD tidak ada dalam struktur partai, sehingga motif politik antara lain upaya untuk menyingkirkan Anas, sangat kental. Upaya dan manuver Forum Komunikasi Pendiri dan Deklarator Partai Demokrat (PD) dinilai tidak lazim dan merusak pembentukan partai modern. Prinsip politik santun yang menjadi motto PD dipertanyakan. Sosok pendiri seperti Vence Rumangkang yang menginisiasi FKPD, sudah pernah keluar dari PD dan membentuk partai baru. Jika dipikir secara logika, itu justru menambah persoalan dalam intern Demokrat. Bahkan dalam pertemuan-pertemuan itu ada pembicaraan soal melengserkan ketua umum.
Anas dianggap berbahaya, ia harus disingkirkan sebelum memberikan perlawanan lebih jauh. SBY tahu jika Anas dibiarkan sedikit saja mempunyai kesempatan untuk melawan, maka efeknya akan sangat buruk bagi SBY. Itu dikarenakan Anas orang yang pintar dalam memainkan politik, ia bisa mengerahkan seluruh pasukan DPC-DPD nya untuk mbalelo kepada SBY. Oleh karena itu SBY mengerahkan para jenderal yang ada di kabinetnya, untuk menyerang Anas baik off-line maupun on-line di media. Sebagaimana budaya militer, sebagai junior, para jendral harus patuh kepada senior, SBY. Para jenderal mulai bergerilya, mulai dari TB Silalahi, Djoko Suyanto, Sudi Silalahi, Kohirin, Ignatius Mulyono, Iwan S. Sulandjana sampai mantan Kapolda Metrojaya Irjen Nurfaizi dikerahkan. Bahkan di setiap kesempatan, dimana ada SBY selalu ada Menkopolhukam Djoko Suyanto dan Mensesneg Sudi Silalahi. Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Ajeng Ratna Suminar, mengatakan Ketua Komisi Pengawas (Komwas) Partai Demokrat (PD), TB Silalahi sudah gerah dengan Anas Urbaningrum. “Ya gitulah, Pak TB merasa gerah dengan Pak Anas,” kata Ajeng di gedung DPR, Jakarta, Kamis (1/3). Menurutnya, kehadiran TB Silalahi dapat membersihkan kader yang bermasalah di lingkungan PD.  Apalagi, TB Silalahi merupakan orang dekat Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Sementara itu, dalam acara peluncuran buku Mengawali Integrasi, Mengusung Reformasi yang dihelat di Raffless Grand Ballroom, Balai Kartini, Jakarta, SBY mengumpulkan para alumni Akabri 1970. Jenderal (pur) Luhut B. Panjaitan yang berbicara sebelum Agus Widjojo di akhir sambutannya menyinggung mengenai capres 2014. Dia menegaskan, Presiden SBY juga disarankan untuk menyiapkan capres yang memiliki track record baik. “Bila diizinkan, kami memberikan saran menyiapkan penerus tongkat estafet,” kata Luhut. Dalam acara tersebut, hadir Jenderal (pur) Endriartono Sutarto yang dikabarkan menjadi kandidat capres 2014. Selain itu, ada Jenderal (pur) Subagyo H.S., Jenderal (pur) Fachrul Razi, Jenderal (pur) Pol Suroyo Bimantoro, dan Laksamana (pur) Bernard Kent Sondakh. Mantan Wapres Try Sutrisno juga hadir dalam acara yang berlangsung hampir dua jam itu. Dalam acara tersebut, SBY didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri. Di antaranya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.
Konsolidasi para jenderal sudah ditentukan, Anas harus dijatuhkan dengan cantik, bukan secara frontal karena Anas tahu banyak tentang kebobrokan Cikeas. Well let’s see the truth, tontonan keroyokan SBY cs terhadap Anas, bukanlah pergulatan dalam menegakkan idealitas hukum, tapi lebih pada penyumbatan ruang gerak tokoh muda itu (AU) di 2014 kelak. Anas adalah ketua umum sah yang dipilih berdasarkan Kongres partai. Secara hukum, posisi Anas masih bisa bertahan karena hanya melalui kongres seseorang bisa diangkat atau diturunkan sebagai ketum. Dari perspekti hukum dan legal formal, posisi Anas sah. Biarkan rakyat yang menilai. Dan sebagai pembaca yang pintar, jangan mau dibodohi oleh apa yang nampak. Banyak membaca, membaca banyak fakta. Salam Republik Wayangku !!!!!

sumber :  http://politik.kompasiana.com/2012/10/23/para-jenderal-mengepung-anas/497780/


Artikel Terkait:

0 komentar:

Posting Komentar