Mengapa
bukan Anas? Anas sebenarnya merupakan pengganti yang sangat ideal bagi
SBY dan calon pemimpin partai Demokrat yang ideal. Namun, pihak Cikeas
sudah mempunyai calon lain sebagai pengganti SBY sebelum Ibas naik, dia
lah Andi Mallarangeng, teman seperjuangan Anas selama berkiprah di HMI.
Andi Mallarangeng dipilih karena dia lebih dekat dengan pihak Cikeas dan
lebih mudah untuk diatur ketimbang Anas. Namun, kenyataan ternyata tak
berpihak pada kubu Cikeas, Andi Mallarangeng kalah pada konggres
Demokrat tahun 2010, sementara boneka lain yang dipersiapkan sebagai
cadangan yakni Marzukie Ali juga kalah. Mau tak mau Cikeas harus
menerima kenyataan bahwa Anas menang. Di tengah kebingungan akibat
kemenangan Anas, diam-diam Cikeas menyusun rencana lain. Anas boleh
menang, tapi dinasti Cikeas harus tetap dibangun kembali. Apa yang
dilakukan Cikeas kemudian? Menghancurkan Anas secara perlahan,
sistematis, dan massif. Di tingkatan atas kewenangan Anas mulai
dikebiri, segala keputusan selalu dipegang oleh SBY dan Majelis Tinggi
partai Demokrat, padahal mereka berada di kedudukan tersebut karena Anas
menghormati mereka. Peran Anas sebagai Ketua Umum malah seperti simbol
belaka, sehingga praktis ia tak punya banyak ruang gerak. Di tingkatan
bawah, pendukung Anas mulai dipreteli dan di tingkatan DPD-DPC, dukungan
terhadap Anas juga digoyahkan dengan iming-iming uang.
Kiprah
seorang Anas dianggap semakin berbahaya oleh Cikeas. Anas dikenal oleh
masyarakat sebagai cerminan pemimpin muda yang kharismatik, santun,
cerdas, bersahaja dan tak banyak ulah. Itu diperjelas dengan hasil
survey beberapa lembaga survey yang memaparkan bahwa Anas adalah calon
kuat presiden pada pemilu 2014. Citra Anas ini semakin memojokkan pihak
Cikeas, karena di sisi lain popularitas SBY sudah jauh menurun dan
pemerintahannya dianggap sudah tak memberi kepuasan bagi rakyat. Oleh karena itu disusunlah rencana untuk menghancurkan Anas. Semua cara dilakukan, mulai dari counter
media, penghancuran karakter Anas, “celoteh” Nazzarudin, rekayasa
kasus, sampai pengerahan para jenderal aktif maupun purnawirawan sekutu
SBY untuk melakukan silent war.
SBY sebagai seorang jenderal besar pasti disegani oleh para perwiranya,
perwira-perwira yang dianggap loyal mulai dimasukkan dalam lingkaran
kabinet untuk mendukung kelanggengan kekuasaannya. Di dalam internal,
SBY mengumpulkan para jenderalnya dalam bingkai Forum Komunikasi Pendiri
Demokrat. Tujuannya jelas, untuk menyingkirkan kader-kader yang mbalelo
seperti Anas. Dari sisi legitimasi hukum, FKPD tidak ada dalam struktur
partai, sehingga motif politik antara lain upaya untuk menyingkirkan
Anas, sangat kental. Upaya dan manuver Forum Komunikasi Pendiri dan
Deklarator Partai Demokrat (PD) dinilai tidak lazim dan merusak
pembentukan partai modern. Prinsip politik santun yang menjadi motto PD
dipertanyakan. Sosok pendiri seperti Vence Rumangkang yang menginisiasi
FKPD, sudah pernah keluar dari PD dan membentuk partai baru. Jika
dipikir secara logika, itu justru menambah persoalan dalam intern
Demokrat. Bahkan dalam pertemuan-pertemuan itu ada pembicaraan soal
melengserkan ketua umum.
Anas
dianggap berbahaya, ia harus disingkirkan sebelum memberikan perlawanan
lebih jauh. SBY tahu jika Anas dibiarkan sedikit saja mempunyai
kesempatan untuk melawan, maka efeknya akan sangat buruk bagi SBY. Itu
dikarenakan Anas orang yang pintar dalam memainkan politik, ia bisa
mengerahkan seluruh pasukan DPC-DPD nya untuk mbalelo kepada SBY. Oleh karena itu SBY mengerahkan para jenderal yang ada di kabinetnya, untuk menyerang Anas baik off-line maupun on-line
di media. Sebagaimana budaya militer, sebagai junior, para jendral
harus patuh kepada senior, SBY. Para jenderal mulai bergerilya, mulai
dari TB Silalahi, Djoko Suyanto, Sudi Silalahi, Kohirin, Ignatius
Mulyono, Iwan S. Sulandjana sampai mantan Kapolda Metrojaya Irjen
Nurfaizi dikerahkan. Bahkan di setiap kesempatan, dimana ada SBY selalu
ada Menkopolhukam Djoko Suyanto
dan Mensesneg Sudi Silalahi. Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat,
Ajeng Ratna Suminar, mengatakan Ketua Komisi Pengawas (Komwas) Partai
Demokrat (PD), TB Silalahi sudah gerah dengan Anas Urbaningrum. “Ya
gitulah, Pak TB merasa gerah dengan Pak Anas,” kata Ajeng di gedung DPR,
Jakarta, Kamis (1/3). Menurutnya, kehadiran TB Silalahi dapat
membersihkan kader yang bermasalah di lingkungan PD. Apalagi, TB
Silalahi merupakan orang dekat Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat,
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Sementara
itu, dalam acara peluncuran buku Mengawali Integrasi, Mengusung
Reformasi yang dihelat di Raffless Grand Ballroom, Balai Kartini,
Jakarta, SBY mengumpulkan para alumni Akabri 1970. Jenderal (pur) Luhut
B. Panjaitan yang berbicara sebelum Agus Widjojo di akhir sambutannya
menyinggung mengenai capres 2014. Dia menegaskan, Presiden SBY juga
disarankan untuk menyiapkan capres yang memiliki track record baik.
“Bila diizinkan, kami memberikan saran menyiapkan penerus tongkat
estafet,” kata Luhut. Dalam acara tersebut, hadir Jenderal (pur)
Endriartono Sutarto yang dikabarkan menjadi kandidat capres 2014. Selain
itu, ada Jenderal (pur) Subagyo H.S., Jenderal (pur) Fachrul Razi,
Jenderal (pur) Pol Suroyo Bimantoro, dan Laksamana (pur) Bernard Kent
Sondakh. Mantan Wapres Try Sutrisno juga hadir dalam acara yang
berlangsung hampir dua jam itu. Dalam acara tersebut, SBY didampingi Ibu
Negara Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri. Di antaranya, Menteri
Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.
Konsolidasi
para jenderal sudah ditentukan, Anas harus dijatuhkan dengan cantik,
bukan secara frontal karena Anas tahu banyak tentang kebobrokan Cikeas. Well let’s see the truth, tontonan
keroyokan SBY cs terhadap Anas, bukanlah pergulatan dalam menegakkan
idealitas hukum, tapi lebih pada penyumbatan ruang gerak tokoh muda itu
(AU) di 2014 kelak. Anas adalah ketua umum sah yang dipilih berdasarkan
Kongres partai. Secara hukum, posisi Anas masih bisa bertahan karena
hanya melalui kongres seseorang bisa diangkat atau diturunkan sebagai
ketum. Dari perspekti hukum dan legal formal, posisi Anas sah. Biarkan
rakyat yang menilai. Dan sebagai pembaca yang pintar, jangan mau
dibodohi oleh apa yang nampak. Banyak membaca, membaca banyak fakta.
Salam Republik Wayangku !!!!!
sumber : http://politik.kompasiana.com/2012/10/23/para-jenderal-mengepung-anas/497780/


0 komentar:
Posting Komentar