ads

Bursa Eropa Negatif di Awal Sesi

HeadlineLUVI LUVI.COM - London - Krisis di Yunani dan Spanyol menyeret bursa saham Eropa ke zona negatif pada awal pekan ini.

Indeks FTSE turun 0,7% ke 5.824, indeks CAC terpangkas 1,3% ke 3.409 dan indeks DAX lebih rendah 1,3 persen ke 7.298,52.

Pasar akan lebih fokus pada krisis Eropa pada pekan ini. Hal ini menjelang pertemuan para pejabat Uni Eropa di Brussels pada pekan depan. "Menteri Keuangan bertemu di Luksemburg hari ini, sementara Angela Merkel (Kanselir Jerman) besok ke Yunani. Rabu besok Rajoy (PM Spanyol) akan terbang ke Paris," kata analis di Interactive Investor, Rebecca O'Keeffe.

Masalah utama tetap soal dukungan Uni Eropa terhadap krisis yang dialami Yunani. Selain itu soal potensi paket dana segar untuk Spanyol.

Saham Autos turun 1,7 persen. saham sektor komoditi turun 1,5% sebagai pemicu pelemahan di suruh bursa Eropa setelah naik beberapa waktu lalu. Saham produsen mobil Jerman, Daimler turunh 2,08 persen dan saham tambang Fresnillo turun 2,2 persen. Untuk saham Vedanta turun 2,5%. Demikian juga saham Lonmin turun 3,2 persen.

Saham perusahaan tambang dari Inggris terpangkas setelah aksi pemogokan menuntut kenaikan upah di Afrika Selatan.

Pelemahan sudah dialami bursa saham Asia setelah Bank Dujnia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi China dan Asia Timur. Pada pemimpin dunia akan berkumpul di Tokyo untuk pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia. IMF juga diperkirakan akan memangkas pertumbuhan ekonomi global.

Indeks Hang Seng turun 0,5%, indeks Nikkei naik 0,4%, STI turun 0,9%, Shanghai turun 0,8%, indeks Kospi turun 0,6%, indeks ASX turun 0,2%.

Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Alasannya karena ada risiko perlambatan di China yang berpotensi memburuk dan bertahan lama dari yang diharapkan sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi China kemungkinan akan tumbuh 7,7 persen tahun ini atau turun dari prediksi yang dirilis bulan Mei lalu di kisaran 8,2 persen. Untuk pertumbuhan tahun depan dipangkas menjadi 8,1 persen dari sebelumnya 8,6 persen.

Sementara untuk pertumbuhan di kawasan Asia Timur tumbuh sebesar 7,2 persen tahun ini dan akan tumbuh 7,6 persen di tahun depan. Pada proyeksi sebelumnya, tahun ini akan tumbuh 7,6 persen dan tahun depan mencapai 8 persen.

SUMBER

Artikel Terkait:

0 komentar:

Posting Komentar