ads

DALAM KARIR SERTA KARAKTER ANTARA JOKOWI DAN OBAMA TERNYATA HAMPIR MIRIP

LUVI LUVI.COM - Saya tidak ingin mendahului takdir dengan mengatakan Jokowi akan memenangkan putaran dua pemilihan gubernur DKI Jakarta. Masalah terberat Jokowi bukan pada pilgub putaran dua. Masalah terbesar dia adalah after the election. Dan saya memperkirakan Jokowi akan bernasib malang seperti Presiden Barack Obama.
Ada apa dengan Obama? Bagi pembaca yang tidak terlalu mengikuti perkembangan politik Amerika mungkin bertanya-tanya. Pesona Obama ketika mengunjungi Indonesia di tahun 2010 mungkin masih berbekas jelas di ingatan kita. Pidatonya di Universitas Indonesia yang menyentuh kalbu, pujiannya kepada Pancasila dan teriakan khasnya “Bakso!” yang membuat kita melayang di awang-awang susah untuk dilupakan.
Tapi di negerinya sendiri nasib Obama kini di ujung tanduk.
Jokowi dan Obama memiliki persamaan. Dari segi fisik, keduanya bersosok kurus, tinggi, langsing (kutilang). Dan meroketnya mereka berdua ke kancah politik juga sangat mengejutkan. Obama hanyalah seorang senator muda dan bisa dikatakan anak ingusan jika dibanding pesaingnya Senator John McCain yang punya darah biru politik: 26 tahun sebagai anggota US Senate, mantan tentara, pahlawan Perang Vietnam, serta ayah dan kakeknya adalah jenderal bintang empat di AL Amerika Serikat. Toh “anak Menteng” itu juga yang terpilih menjadi presiden.
Bagaimana Jokowi? Dibanding Foke, secara politik Jokowi memang anak ingusan. Foke sudah puluhan tahun menduduki berbagai jabatan di birokrasi kota Jakarta. Dia tahu isi perut ibukota. Jokowi? Dia “cuma” walikota Solo yang kompleksitasnya tidak sebanding dengan Jakarta. Dari segi pendidikan juga njomplang; Foke adalah pemegang gelar doktor tata perkotaan dari Universitas Braunschweig, Jerman, sedangkan Jokowi “cuma” sarjana perhutanan lulusan UGM. Tapi seperti David melawan Goliath, Obama melawan McCain, “wong Solo” itu jugalah yang menang.
Aura Pilgub DKI 2012 juga hampir sama dengan US Election 2008: status quo melawan gerakan pembaharuan, generasi tua melawan generasi muda, dan ada tawaran perubahan. “Hope” (perubahan), demikian slogan Obama. Harapan sama yang diletakkan oleh warga Jakarta di pundak Jokowi.
Namun apa yang terjadi saat ini ketika periode jabatan pertama Presiden Obama hampir habis?
Ekonomi Amerika masih lemah. Pengangguran cukup tinggi berkisar di angka 8%, padahal ketika Obama menggantikan Bush di tahun 2008 angka pengangguran cuma sekitar 6%. Amerika masih bercokol di Afghanistan walaupun Obama melemparkan janji muluk akan menarik total pasukan Amerika dari sana ketika kampanye di tahun 2008.
Dan yang paling mengecewakan, program kesehatan ObamaCare yang menjadi jurus pamungkas untuk merombak bobroknya sistem layanan kesehatan di Amerika malah sempat tersangkut di Mahkamah Agung AS akibat ditentang oleh beberapa negara bagian yang dikuasai oleh Partai Republik. ObamaCare adalah pertaruhan Obama, jika program ini batal maka karir politik Obama bisa dipastikan akan kiamat. Saat ini Obama sementara bisa menarik nafas lega setelah Mahkamah Agung AS memutuskan menerima ObamaCare dengan dukungan 5 dari 9 hakim agung.
Presiden Obama mengalami impotensi politik, berapi-api di awalnya tapi loyo di penghujungnya. Apa yang terjadi? Dan apa yang akan menimpa Jokowi di era kepemimpinannya sebagai Gubernur DKI kelak?
1. Konspirasi parlemen. Kita dan Amerika menganut trias politika (pemisahan kekuasaan). Presiden dan gubernur adalah pemegang kekuasaan eksekutif, tapi tidak bisa seenak udelnya karena terikat kontrol oleh lembaga legislatif.
Di Amerika, beberapa kebijakan penting Presiden Obama kandas di meja parlemen Amerika, terutama US Congress. Pasalnya, komposisi Kongres AS saat ini didominasi oleh Partai Republik yang merupakan musuh bebuyutan Presiden Obama. Apalagi di dalam kubu Republik ini ada faksi garis keras bernama Tea Party yang bersumpah akan menghalangi apa saja kebijakan Obama sehingga menyulitkan negosiasi bipartisan antara kubu Demokrat dan Republik.
Obama mewarisi Amerika yang hancur di tangan Bush Junior. Untuk pemulihan ekonomi tentu saja Obama membutuhkan banyak uang untuk membiayai berbagai program pembangunan. Amerika saat ini persis seperti Eropa yang butuh uang besar-besaran untuk bangkit dari kehancuran akibat Perang Dunia II di bawah program Rencana Marshall (Marshall Plan).
Namun kubu Republik yang saat ini menguasai Kongres menjegal program fiskal Obama. Pertama, partai Republik adalah partai free market, percaya dengan kekuatan tangan tersembunyi (invisible hands) ekonomi yang bisa memulihkan dirinya sendiri tanpa campur tangan negara. Kedua, mereka ingin melihat Obama gagal. Strategi mereka berhasil. Tidak banyak yang bisa dilakukan Obama sejak 2008 sampai sekarang.
Jokowi akan menghadapi situasi yang sama. Komposisi DPRD DKI saat ini didominasi kubu Demokrat dengan 32 orang dari total 94 anggota. PDI-P (partai pengusung Jokowi) hanya berkekuatan 11 orang. Jadi bagaimana Jokowi bisa melaksanakan program-programnya jika selalu dijegal oleh Partai Demokrat yang akan all-out mengagalkan Jokowi?
Apa pilihan Jokowi agar tidak diskak-mat oleh kubu Demokrat? Pertama, sabar menunggu sampai pemilu 2014 dan berharap PDI-P akan mendominasi komposisi DPRD DKI. Kedua, bermain catur politik dengan mengajak PKS dengan kekuatan 18 orang di DPRD untuk menjadi rekan koalisi PDI-P. Saya melihat agaknya Jokowi akan mengambil pilihan kedua, suatu pilihan yang cerdas ketimbang menunggu sampai 2014. Hubungan pribadi antara Jokowi dan sesepuh PKS Hidayat Nurwahid sangat baik, yang bisa menjadi modal merekatkan PDI-P dan PKS menghadapi ulah Demokrat di DPRD. Lagipula, PKS sudah dibuat patah arang oleh Partai Demokrat dan Presiden SBY yang berkali-kali mengancam untuk mendepak partai dakwah itu dari koalisi pemerintahan.
Tapi Jokowi jangan senang dulu. Kita tahu PKS punya dua faksi: faksi Sejahtera yang didominasi orang-orang seperti Anis Matta dan Fahri Hamzah, dan faksi Keadilan yang didominasi sesepuh PKS seperti Hidayat Nurwahid. Akankah PKS satu suara mendukung Jokowi? Ini yang susah untuk diramalkan. Jika PKS bersatu dengan Demokrat atas sebab sentimen keagamaan (ingat, Ahok adalah non-muslim), maka ini jadi kartu mati untuk Jokowi.
2. Renggangnya hubungan emosional dengan rakyat. Dunia dibuat terpesona dengan kampanye Obama yang mengedepankan pendekatan pribadi kepada calon pemilih. Obama menyapa pemilih, berdiskusi di ajang town hall meeting, dan selalu menyelipkan kisah-kisah personal di setiap pidatonya. Kesan yang terbentuk: Obama adalah orang yang dekat dengan rakyat.
Tetapi kesan itu berubah setelah Obama terpilih menjadi presiden. Obama tidak lagi terlihat menyapa rakyatnya seperti ketika masa kampanye. Mungkin bukan 100% salah Obama. Mungkin Obama terlalu sibuk dengan pekerjaan barunya; memulihkan ekonomi sebuah negara sebesar Amerika tentu bukan pekerjaan ringan. Dan mungkin juga setelah masuk ke White House Obama menyadari bahwa yang menentukan nasib Amerika bukan rakyat, melainkan kelompok lobbiyst yang punya kekuatan menggurita.
Apapun alasan Obama, rakyat Amerika dibuat kecewa. Obama sekarang bukan lagi Obama yang dulu dekat dengan masyarakat. Dia sudah berjarak, apapun alasannya. Tak heran jika di tahun 2008 Kongres masih bisa dikuasai Partai Demokrat, tapi di tahun 2011 giliran dikuasai oleh kubu Republik. Sudah bukan rahasia lagi banyak pendukung Demokrat yang beralih ke Republik akibat kecewa dengan kinerja Obama.
Jokowi-Ahok saat ini menampilkan pesona seperti Obama-Biden di tahun 2008. Dekat dan tidak berjarak dengan rakyat. Tapi apa yang akan terjadi ketika Jokowi-Ahok nanti sudah dibuat sibuk dengan urusan pemerintahan Jakarta? Akankah Jokowi mengikuti jejak Obama yang ditinggalkan pendukungnya? Semoga saja tidak.
Jokowi harus ingat bahwa DPRD DKI saat ini didominasi oleh Partai Demokrat sampai tahun 2014. Jika Jokowi membuat rakyat kecewa maka dia akan digoyang dari dua arah, dari parlemen dan dari luar parlemen. Sesibuk apapun Jokowi, dia tidak boleh memutus hubungan emosionalnya dengan rakyat Jakarta seperti yang Obama lakukan dengan rakyat Amerika saat ini. Rakyatlah yang mengangkat Jokowi dari “cuma” seorang walikota Solo menjadi gubernur DKI. Memutus hubungan emosional dengan rakyat adalah kesalahan fatal yang harganya sangat mahal untuk dibayar.
Masalahnya, mungkinkah Jokowi-Ahok akan berjarak dari rakyat ketika sudah sibuk dengan pekerjaan barunya nanti? Sangat mungkin. Birokrasi Jakarta adalah sarang penyamun. Di sana bercokol orang-orang seperti Foke, penyamun karatan yang tidak sudi ladang rezekinya ditutup oleh Jokowi-Ahok. Membereskan mereka semua ini butuh energi ekstra, dan saya perkirakan Jokowi-Ahok akan dibuat sibuk menghadapi goyangan dari jajaran birokrat Jakarta.
Jadi, akankah wong Solo kita ini bernasib malang seperti si anak Menteng? Akankah rakyat Jakarta dibuat kecewa setelah sempat meletakkan harapan setinggi langit di pundak Jokowi? Jawaban saya adalah “YA” untuk kedua pertanyaan tersebut. Tapi ingat, hanya doa yang bisa mengubah takdir, dan hanya Jokowi yang bisa memutarbalikkan ramalan saya ini. Dan saya sangat berharap semoga ramalan saya salah.

 sumber :http://politik.kompasiana.com/2012/07/12/jokowi-akan-bernasib-malang-seperti-obama/

Artikel Terkait:

0 komentar:

Posting Komentar