Bukannya melakukan perang dengan jalan konvensional, Netanyahu menganjurkan AS untuk mempergunakan Twitter dan situs-situs jejaring sosial lainnya sebagai senjata.
"Iran telah mencegah masyarakatnya untuk bebas mengakses internet," kata seorang pejabat senior mengutip ucapan Netanyahu kala berbicara di hadapan komite pertahanan dan urusan luar negeri parlemen Israel.
"Mempergunakan Twitter dan internet untuk melawan rezim Iran adalah sebuah hal luar biasa yang mungkin dilakukan oleh AS," katanya.
Twitter merupakan media favorit yang dipergunakan oleh para demonstran Iran yang bergabung dengan protes kubu oposisi terhadap terpilihnya kembali Presiden Mahmoud Ahmadinejad dan menyatakan bahwa pemilihan tersebut dipenuhi kecurangan.
Pada hari Senin, sejumlah pengunjuk rasa berkumpul di Iran untuk menandai peringatan tahunan Hari Siswa. Banyak orang yang meneriakkan slogan-slogan anti Ahmadinejad.
Menjelang ajang pada hari Senin tersebut, otoritas Iran memutuskan koneksi internet dan memblokir akses untuk menuju sejumlah situs milik kelompok oposisi.
Israel menganggap Iran sebagai musuh besar menyusul pernyataan Ahmadinejad yang berulang-ulang mengenaipenghapusan Israel dari peta dunia. Ahmadinejad juga mempertanyakan kebenaran peristiwa Holocaust.
Israel dan negara-negara Barat menuding Iran tengah berupaya untuk mengembangkan senjata atom dan disamarkan sebagai program nuklir sipil, sebuah tudingan yang berulangkali dibantah oleh Iran.
Awal bulan ini, militer Israel mengeluarkan pengumuman bahwa pihaknya akan mulai merekrut para pakar komputer untuk bergabung dalam unit internet dan bidang media.
Juru bicara Angkatan Darat Israel, Brigadir Jenderal Avi Benanyahu, mengumumkan hal tersebut di hadapan konferensi wartwan Eilat, demikian dilansir oleh surat kabar Haaretz.
Juru bicara tersebut menjelaskan bahwa departemen baru tersebut akan menarget situs-situs jejaring sosial untuk menciptakan hubungan langsung dengan komunitas internasional, bukannya melalui media pada umumnya.
Menurut Netanyahu , dari setiap kelompok yang direkrut, sekitar 8 hingga 10 orang anak muda yang merupakan pakar dalam Web 2.0 – Youtube, Facebook, dan Twitter – akan menjalani proses identifikasi sebelum mendapatkan pelatihan dan ditempatkan di unit militer baru.
Benanyahu mengatakan kepada Haaretz bahwa program baru tersebut akan diimplementasikan dalam waktu beberapa bulan ke depan.
Kantor Juru Bicara militer mulai mengerjakan proyek tersebut sejak Operation Cast Lead, pembantaian yang dilakukan militer Israel selama 23 hari di Jalur Gaza pada bulan Desember 2008-Januari 2009.
Unit militer memposting video serangan Jalur Gaza di YouTube. Kantor Juru Bicara juga mengontak para blogger yang dikenal luas sebagai pembuat opini dan langsung mengirimkan data dalam bentuk informasi dan gambar.


0 komentar:
Posting Komentar