Nama kota Yerussalem
dan Tel Aviv, yang merupakan dua kota terbesar di Israel, sama sekali
tidak ditunjukkan dalam peta penerbangan di dua pesawat Airbus A320
milik maskapai tersebut. Justru arah kota Mekkah, kota suci Islam,
ditunjukkan dengan jelas di layar, sementara kota Haifa yang terletak di
bagian utara Israel diganti namanya menjadi Khefa – nama Arab dari kota
Haifa yang sesuai dengan Mandat Inggris sebelum terjadi perang tahun
1948.
BMI bersikeras bahwa
peta tersebut tidak dibuat dengan dasar agenda politik anti-Israel,
pesawat tersebut baru saja dibeli dari sebuah perusahaan penerbangan
sewaan yang bangkrut, dimana pesawat tersebut kebanyakan terbang diatas
wilayah negara-negara Arab. Maskapai BMI, yang dijadwalkan melakukan
penerbangan ke bandara Ben-Gurion dua kali sehari, menyatakan bahwa
terdapat kemungkinan kesalahan logistik karena kegagalan dalam
memodifikasi sistem dari British Airline BMED, sistem tersebut kembali
tidak berfungsi.
BMED (British
Mediterranean Airways Limited), awalnya merupakan cabang dari British
Airways, kemudian diakuisisi dan digabungkan dalam BMI pada bulan
Oktober 2007.
"Jalur utama
penerbangan BMED adalah menuju Timur Tengah – utamanya ke Amman, Beirut,
dan Damaskus, namun tidak pernah terbang menuju Israel sehingga peta
yang ada dalam pesawat tidak menunjukkan negara Israel," kata juru
bicara BMI Phil Shepherd.
Dia menambahkan bahwa
peta lama tersebut direncanakan untuk tidak lagi diaktifkan pada malam
itu juga dan digantikan dengan peta baru, yang menunjukkan negara Israel
dan Tel Aviv. "Ketika perangkat lunak pesawat sudah diupdate,
seharusnya peta tersebut sudah tidak muncul kembali, entah mengapa
akhir-akhir ini peta lama tersebut muncul kembali," tambah Shepherd.
"Kami memiliki prosedur untuk mematikan peta tersebut, ketika kami memutuskan untuk membuka jalur penerbangan ke Tel Aviv."
"Karena hal tersebut,
sistem hiburan dalam pesawat dibuat khusus untuk menyesuaikan dengan
para penumpang yang terbang dari dan menuju negara Arab. Oleh karena
itu, peta dalam pesawat tersebut justru lebih banyak menunjukkan
tempat-tempat suci umat Islam. Jika memang benar BMI memiliki agenda
politik tertentu untuk membuat marah negara-negara tetangga, tentunya
maskapai tersebut tidak akan berani menanamkan investasi dalam jumlah
yang begitu besar pada jalur penerbangan Tel Aviv," kata Maskapai
tersebut.
Baru-baru ini, BMI
telah mencapai kesepakatan dengan kementerian pariwisata Israel untuk
membuka jalur penerbangan khusus dari Heathrow, London, menuju Tel Aviv,
yang sedianya akan beroperasi setiap hari.
Sudah bertahun-tahun
BMI membuka jalur penerbangan menuju negara-negara Muslim termasuk
Syiria, Libanon, dan Iran. Dua unit pesawat yang dipergunakan dalam
penerbangan menuju Tel Aviv awalnya direncanakan untuk terbang menuju
negara-negara Arab, bunyi keterangan dari maskapai tersebut, oleh karena
itu peta dalam pesawat tersebut dibuat khusus untuk menunjukkan
tempat-tempat suci umat Muslim.
Kontan saja, para
penumpang asal Israel melancarkan protes terhadap maskapai Inggris
tersebut. Yigal Pamor, juru bicara kementerian luar negeri Israel
mengatakan: "Dengan berpura-pura tidak tahu tujuan akhir penerbangan,
maka BMI tidak akan bisa terbang kemanapun. Dengan menghapuskan Israel
dari peta, mereka menanggung resiko dihapuskan dari daftar maskapai
penerbangan yang memenuhi syarat bagi Israel."
Jalur penerbangan
antara Israel dan negara-negara tetangganya boleh dibilang berjumlah
sedikit. Israel tidak diperkenankan menginjakkan kaki di Syiria atau
Libanon, sementara penerbangan menuju Yordania dan Mesir terus
memperlihatkan penurunan dalam beberapa tahun belakangan.
Pihak British Airways
menolak memberikan keterangan berkenaan dengan kasus peta BMED tersebut,
mereka hanya menyatakan bahwa BMED hanya sebuah cabang dan tidak
dioperasikan langsung oleh British Airways. BMI juga masuk dalam
pemberitaan di beberapa media karena memecat seorang staf yang menolak
ditugaskan terbang menuju Arab Saudi.
Pramugari Lisa Ashton
diperintahkan untuk mengenakan abaya, jubah hitam yang menutup seluruh
bagian tubuh dan hanya memperlihatkan wajah, tangan dan kaki, di
tempat-tempat umum di Arab Saudi. Ia juga diperintahkan untuk selalu
berjalan dibelakang semua rekan prianya, walaupun memiliki jabatan yang
lebih rendah.
Ashton, seorang
Kristiani, melahyangkan gugatan atas pemberhentian secara tidak adil di
pengadilan pekerja Inggris pada awal tahun ini, namun pihak pengadilan
menggugurkan gugatan tersebut dan menyatakan bahwa BMI dibenarkan karena
mengikuti peraturan budaya yang berbeda pada semua stafnya


0 komentar:
Posting Komentar