ads

PAMOR DEMOKRAT KIAN ANJLOK DRASTIS

LUVI LUVI.COM - Jakarta - Para analis menyatakan, makin lama Partai Demokrat tersandera korupsi para politisinya, makin muramlah prospek parpol itu ke depan. Apalagi SBY sudah tidak mungkin maju lagi sehingga kehabisan figur untuk tampil penuh percaya diri.
Derasnya pengaruh korupsi dalam merusak kredibilitas parpol, sangat kentara dalam kasus Demokrat yang berusaha agar tidak jatuh secara konyol. ''Dalam konteks parpol di negeri ini, korupsi politik memakan anak-anaknya sendiri,'' kata pengajar Sosiologi UIN Jakarta Abas Jauhari MA.
Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyebutkan salah satu faktor penyebab pemilih Partai Demokrat merosot tajam adalah pemberitaan mengenai kasus korupsi yang melibatkan petinggi partai itu di media massa.
Melalui survei yang dilakukan terhadap pemilih Partai Demokrat pada Pemilu 2009 lalu, SMRC juga menemukan 61 persen reponden menyatakan tidak akan kembali memilih partai itu setelah mengikuti pemberitaan kasus korupsi.
“Sebanyak 53 persen responden menyatakan mengikuti pemberitaan kasus korupsi di media dan 52 persen menyatakan yakin bahwa petinggi Demokrat terlibat korupsi," kata CEO SMRC Grace Natalie.
Karena itu, Grace menyatakan keyakinannya bahwa salah satu alasan pemilih Partai Demokrat pada 2009 akan beralih ke partai lain pada 2014 disebabkan skandal korupsi yang diduga dilakukan kader partai itu.
Pendapat senada disampaikan mantan Wapres Jusuf Kalla. Politisi senior Partai Golkar Jusuf Kalla (JK) menilai tingginya elektabilitas Partai Golkar berdasarkan hasil jajak pendapat berbagai lembaga survei lantaran parpol yang menjadi lawan, yakni Partai Demokrat, tengah bermasalah. JK melihat, Demokrat digerogoti korupsi, sementara Golkar oleh situasi-kondisi ini.
Hasil survei terakhir Saiful Mujani Research and Consulting, Partai Golkar berada di urutan teratas dengan angka elektabilitas 14 persen. Adapun survei Lingkaran Survei Indonesia, Golkar juga berada di urutan satu dengan angka 21 persen.
LSI mencatat, pemilih Partai Demokrat dan parpol Islam diprediksi akan beralih ke Gerindra dan Golkar. Pemilih Partai Demokrat yang berpindah ke Gerindra diperkirakan sebesar 19,2 persen, sedangkan ke Golkar 14,3 persen. Sementara itu, pemilih Partai Demokrat yang memilih Partai Hanura 8,2 persen, Partai Nasdem sebanyak 7,3 persen, PDI P sebanyak 4,4 persen, partai lainnya sebanyak 8,4 persen, dan tidak terdeteksi 25,1 persen.
Dengan deskripsi di atas, makin jelas bahwa masyarakat makin sadar akan bahaya korupsi dan dampak sosialnya. Partai-partai politik yang tersandera isu korupsi, hampis pasti kehilangan jatidiri dan kepercayaan dari para demosnya sendiri yakni rakyat. Kasus Demokrat harus jadi cermin bagi parpol lain agar tidak mengulangi kealahan yang sama.

Artikel Terkait:

0 komentar:

Posting Komentar